Ratu Antologi, Penulis, Motivator dan Founder PMA Literasi Istikamah
Moderator : Widya Setianingsih, S.Ag
Hallo Sobat bunda... alhamdulillah hari ini masuk di pertemuan ke-2 Belajar di Group KBMN-28. Alhamdulillah hari ini bisa standby lebih awal. Laptop aman dan sudah bersiap jga. He..he,, seperti mau perang aja nih bunda. Iya donk khan kita sedang berjuang. Berperang melawan diri sendiri dan memaksa diri untuk mencoba tantangan baru. cie..cei yang lagi semangat. Ehm.. iyaa mumpung lagi lempeng nih.
Hari ini kami didampingi oleh Duo Ratu.... wah jadi ga sabaran deh menyimak nya. Kita mulai dengan berdoa dulu yaaa. Bismillah semoga dimudahkan dalam pemahamn . Aamiin.
Moderator memulai dengan membuka kegiatan
"Orang-orang sukses hanyalah mereka yang memiliki kebiasaan sukses,
Brian Tracy
Bunda Widya menyapa kami dan memperkenalkan diri sebagai Arek Malang Widya di kelas spesial yang tanpa sekat dan batas.
beliau mengantarkan kami dengan motivasi dan semangat. H,, jadi beneran bersiap.
Beliau bertanya kepada kami : Pernahkan sahabat sekalian melakukan sesuatu hal dengan rasa senang? Melakukan sesuatu hal dengan rasa cinta?
Yaa itulah Passion.
Passion atau rencana merupakan kecenderungan yang kuat terhadap suatu aktivitas yang digemari oleh seseorang
hari ini kita akan menumbuhkan passion kita dalam menulis. Bersama Bunda hebat idola saya, bunda Kanjengπ
Dalam tema NENJADIKAN MENULIS SEBAGAI PASSION
Seperti biasa pertemuan ini kita akan bagi dalam 4 sesi
1. Pembukaan
2. Paparan materi melalu chat WA grup
3. Tanya jawab
4. Penutup
nah itu dia Pengantar dari bunda Widya..moderator pada pertemuan kedua ini. Gmna apakah bunda sudah berkobar juga ????
BUnda Kanjeng sebutan doleh bunda Widya sebgai narasumber membuka kegiatan dan memberikan pengantar untuk terus bersemangat. Beliau memberikan penguatan bahwa Dengan berbagi dan mengajak peserta untuk menulis, pada akhirnya bagi mereka yang mau berproses dan mau keluar dari zona nyaman, lalu mengikuti aturan main yang ada, juga berani mengambil tantangan ikut lomba, dan meraih sukses.
Ya bun .. baik.
Belau menyampaikan dalam PPTnya dengan memulai pertanyaan
"Mengapa Menulis MEnjadi Passion yang menjanjikan ?"
Jwabannya adalah :
Kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berfikir
Hingga hari ini, profesi menulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial.
oh begitu ya bun.
Beliau juga menyampaikan bahwa :
Passion atau rencana adalah satu gairah yang dimiliki semua orang. Bagaimana kita menjaga passion dan menyalurkannya menjadi sesuatu yang selalu ingin dan ingin lagi. Sehingga tidak pernah padam. Begitu juga dengan proses menulis. Ketika kita sudah menjadikan sebagai renjana, maka giat menulis tidak akan padam. Karena sudah menjadi kebutuhan bukan beban. Jadi ketika belum menulis ada sesuatu yang kurang.
Beliau juga memberikan penguatan dalam diskusi by wa : Ya dengan menulis langsung plong. Yang menjadi tantangan, MAMPUKAH KITA MENJADIKAN MENULIS ITU SATU KEBUTUHAN,atau FOOD SUPLEMEN Yang akan membawa kita menjadi orang yang mulia.
Mengapa menulis versi Founder KBMN antara lain bisa traveling ke luar negeri, karena memang lomba bisa dapat duit dari gopay, bisa ketemu mas Menteri, bisa ketemu Pak Presiden. Bisa mengedukasi pembaca untuk berliterasi.
Subhallah bunda ...motivasinyaa...
tapi kata bunda Kanjeng ternyata ada juga kendalanya loh. Apa itu ? Kata Bunda Janjeng, Kendala dan hambatan itu biasanya dikarenakan beberapa hal yaitu :
Merasa tidak bakat menulis
Tidak memiliki waktu
Tidak memeiliki ide
Tidak Mau dikritik
Tidak suka menulis
Oleh karena itu ada banyak Alasan untuk menulis, Mengapa kita menulis, bagaimana cara kita untuk menulis,kapan kita mulai menulis dan motivasi menulis.
Bunda Kanjeng menyampaikan :
"Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lain" (Hadist)
Nah disini kita perlu healing.Menulis bisa jadi satu solusi.
Yang paling sederhana kita langsung mohon dan menuliskan masalah yang ada. Kita konsultasi pada Allah lewat tulisan. Setelah itu dibaca. Mau dimusnahkan atau mau diabadikan terserah saja. Dada menjadi lapang. Pikiran tenang dan masalah pun hilang.
kalimat ini rasanya menyejukkan yaa Healing dengan menulis ? perlu dicoba sepertinya yaa... soalnya bunda mah seringnya menulis diary apakah itu bisa dibilang bagian dari Healing jga ?
Dalam slide juga disampaikan :
Langkah-langkah menjadi Penulis yang Baik, diantaranya adalah :
1. membaca buku
2. memiliki mentor
3. melihat dan membaca di media
4. belajar dari pengetahuan dan pengalaman dan kisah orang lain
Writing Praparation ??? apa ini yah ?
1. Menggali dan menemukan gagasan /ide
2. Menetukan Tujuan , GenRe dan Segmen Pembaca
3. Menentukan Topik
4. Membuat Outline
5. Mengumpulkan Bahan Materi/Buku
Menulis itu harus sabar
saran bunda Kanjeng penulis pemula sebaiknya lebih fokus pada ketekunan /persistence dalam proses menulis
Tulisan semampu kita terlebih dahulu. jangan berfikir harus mempurna dan jangan terlalu idealis
iya bunda Kanjeng,,bunda akan coba kembai untuk saaaabaaaar yang panjaaaaaaaaaaaang yaaaaaaa. xi..xi..
Kata bunda kanjeng, Langkah selanjutnya setelah membuat naskah kasar adalah melalui Tahap Editing, Revising dan Publishing.. Hmm panjangnyeeeeee.
Nah kalo mau tahu lebih dalam kita simak deh uraian dari bunda Kanjeng.
yang dimaksud :
Editing itu... adalah tahapan membacaulang dan menempurnaan draft.
Revising ... adalah mengubah beberapa bagian naskah , melengapi naskah dan mengevaluasi kembali naskah untuk menihilkan kesalahantulis.
Tuuuh kan prosesnya panjang dan pada fase ini kudu bersabar nih yaaa bun.
nah kalo Publishing adalah... Pengiriman nasakah, Pra cetak , Pencetakan , Promosi dan distribusi.
oooh begitu ya bun.. ok bunda paham yaaa..
dalam PPT bunda kanjeng juga diperlihatkan banyak sekali hasil karya bunda Kanjeng yaa. Good..Good. Bunda mau donk bunda kanjeng . atu ajah..kirim-kirim ya bun.
Doa bunda semoga ketularan ah semangat dan ilmunya..
disesi tanya Jawab ternyata banyak yang penasaran jga tetang serba serbi menulis yaa
Ada yang manarik dari pertanyaan bapak Teguh Wiyono :
Apakah menulis di era digital masih relevan..ditengah banjirnya youtube, tiktok dan media media yang bisa mengirim pesan yg lebih visual ? Sebagai gambar sekarang orang suka nonton video dibanding membaca, bagaimana menjawab tantangan ini?
Jawaban Bunda Kanjeng :
Jangan risau dengan adanya digital, tik tok juga youtube. Percayalah kegiatan Literasi bisa dalam bentuk buku atau ebook.
Untuk menjawab tantangan ini sering adakan lomba dan menghidupkan Literasi di segala lini. Supaya laris manis kita harus memiliki teknik marketing yang jitu.
ada lagi pertanyaan yang sedikit lucu nih dijawab oleh Bunda Kanjeng.
Dari AGUS FANANI, LAMPUNG TIMUR, 1. apa perbedaan hobi dan passion, 2. Jika seseorang mempunyai keinginan menulis tapi kesulitan dalam menulis apakah berarti bukan passionnya.
Jawaban Bunda Kanjeng :
Kalau hobi sepertinya bisa ditahan bila kondisi tidak memungkinkan. Sedang Passion lebih, seperti KEBELET BAB.tak tertahan harus segera ditunaikan agar Plong
Ya ampun sampai bisa kebelet gitu ya bun... Dasyatnya.. he,,hee,, berarti ini luar biasa banget yah. Passion oh Passion.
ayo kita semangat ya pa
Yang lain pertanyaannya jga banyak menambah wawasan bunda deh.
Bunda Widya dan Bunda Kanjeng terimasakah banyak atas ilmunya hari ini yaaah.
Jazakumullah dan barakallahu buat bunda semua.
Mohon bimbingannya ya bun.
Salam sukses buat bunda Kanjeng. Terimakasih sharingnya ya bun.
Hallo Sobat Bunda.... bertemu lagi di sini yaaa..di kelas Perjuangan ... KBMN28π
Tahu ga sobat, malam ini ternyata bunda ga ontime nih... baru pulpul dan baru inget ada 2 kegiatan. Opps !!!!!
Kegiatan 1 niee..... Menyimak di KBMN tapi ternyata ada Kegiatan 2 ππ mana Zoom lagi.. jadi deh double fokus...beneran bisa Fokus ?????? . He..he.. itu rahasia kitah yaa sobat.
Terus udah semangat 45 nih, eh kata Mr. Dalil semangat 2023 nih...Bunda buat strategi ah.....
"sambil menyelam minum air..." Maksudnyeee..sambil menyimak bisa langsung buat resume. Eh apa daya Laptopmya malah dibuat nonton Bola sama yayang. Ya sudahlah akhirnya nyimak pakai HP and sekalian dengerin Zoom. Dapet apa coba...????? yaaa dapat banyak lah. Kuping dibuka lebar... mata melotot sambil baca arahan Mr. Dalil and Narsum Om Jay by wa... Untung aja by WA bahasannya Hmmm.....Sedap sudah.
Keep Smile ajee yee sobat,, eh Bunda deng.........xi..xi.... π
Impian dan Harapan tak sama dengan realita.. xi..xi.. ya udah tpaksa lembur terus...
semangat..semangat bunbun......
Udah ah curhatnya.. sekarang go !
Aduh beneran kan kalo kelewat jadi suka blank nie... help be sobat bunda... mau lembur malah merem... Haduh bunda " when will you move on ????? Get Up...Get Up bunbun !!!!." Niiieeeee kalo ketahuan Om Jay bisa senyum manyun nih....
Hallo Om Jay, Bunda menuliskan resume tentang dirimu nih. bantu komen ya...
Kata Om Jay dalam Jargonnya yang selalu disampaikan adalah "Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi". Nah ini ungkapan ini nih sepertinya akan jadi tantangan banget deh buat bunda. Lancar aja blom gmna mau nulis ya ga ??? Pasti kalo ditanya sama Om Jay jawabnnya Enggalah. katanya kapan anda bisa menulis ?
Pagi
Siang
Sore
Malam
Tidak Tentu waktunya
tuh benerkan ditantangin.... kalo bunda yang jawab kapan-kapan Om...he...he.. ampun yeee dont nyubit..
Kata Om Jay : Semua Bisa menulis
iyah semua orang bisa menulis, karena sudah bisa membaca. Dari banyak membaca, kita bisa menulis. Hanyaaaa ........ kemampuan menulis itu yang belum diasah setiap hari. Makanya kata Om Jay perlu mengasahnya dengan menulis komentar dari tulisan orang lain. Setelah itu , barulah menulis dari hal yang tidak penting menjadi penting.
baik Om Jay .. nanti bunda coba yaaa
Manfaat Menulis itu kata om Jay banyak yah salah satunya kita bisa mengaktualisasikan diri dan menyampaikan pesan kepada orang lain dalam bentuk tulisan.
ayo bunda kita aktualisasi. Siap OM
Berapa jumlah tulisan anda ? wah ini tanya apa ngeledek yaa ???? Kalo bunda siee ada lah tulisan mah hanya belom banyak terus blom tahu itu sudah baik atau belum......., makanya bunda belajar deh.
Ajak siswa untuk menulis ? iyah rencananya begitu yaa Om Jay.
Om Jay banyak memberikan pesan nih buat Bunda dan kawan-kawan di group, yaitu :
Rahasia bisa menulis setiap hari adalah membaca tulisan orang lain.
Bila anda rabun membaca, maka anda akan lumpuh menulis
Kebanyakan orang tidak bisa menulis karena malas membaca tulisan orang lain. Atau merasa tulisannya yang paling hebat. Padahal di atas langit ada langit. Kita harus melepaskan baju kesombongan kita.
Peserta yang lulus itu telah mempraktikkan ilmu menulis setiap hari dan mau belajar hal-hal yang baru
Dengan cara menulis sesuai dengan bidangnya maka menulis terasa mudah
Om Jay jga menyampaikan bagaimana Om Jay mulai menulis, katanya :
Om Jay memulainy semua dari blog pribadi
Pada Tahun 2007, Omjay bertemu dengan seorang blogger terkenal dan beliau adalah seorang kepala sekolah SMK
Omjay TDK tahu apa itu blog dan mulai membuat blog sendiri di blogger.com
Tahun 2008 sekolah Omjay kebakaran dan mulailah Omjay manfaatkan blog sebagai media pembelajaran. Tulisan siswa di blognya menjelma menjadi buku yuk kita ngeblog dan mendapat juara pertama lomba buku pengayaan Depdikbud dengan hadiah Rp. 20.000.000. Omjay tak pernah mengira berkenalan dengan bapak Dedi Dwitagama di Pascasarjana membawa berkah. Omjay menjadi tahu apa itu blog dan mendapat juara pertama lomba blog dari pusat bahasa tahun 2009.
Wah keren yaa pengalaman Om Jay ... Good..Good sangat menginspirasi.
Hal lain yang disampaikan Om Jay adalah :
Jadi menulis setiap hari bukanlah ilmu yang susah untuk dipraktekkan. Kalau kita puny blog maka menulis setiap hari terasa indah. Tulisan-tulisan kita di blog menjelma jadi buku bahkan dapat penghasilan tambahan dari menulis
Menulis setiap hari akan berbuah prestasi ketika anda menulis dengan hati.
Menulis itu akan mudah kalau langsung dilihat dan dialami serta didengarkan secara langsung. Makanya kisah nyata lebih disukai banyak orang daripada kisah fantasi
Menulis setiap hari itu harus ikhlas. Hanya memberi tak harap kembali. Bagi ilmu setiap hari dan bagi pengalaman kepada semua orang. Hasilnya banyak orang yang mendoakan Omjay menjadi doktor pendidikan
Hidup seperti orang berjalan di trotoar. Harus hati-hati melangkah. Begitu j8ga menulis setiap hari. Berpikir sebelum memposting itu penting.
Kelemahan penulis pemula adalah malas baca sehingga tulisannya terasa garing
Penutup akhir dari materi Omjay adalah menulislah setiap hari. tulis apa yang kita sukai dan kuasai di blog.
Demikian, Resume ke 1 yang bisa dibuat , Semoga ini bisa menginspirasi buat bunda.
Salam semangat yaaa..
walupun blom bisa segera mengirimkan Homework but I finish ya mentor...π«
Terima kasih buat Om Jay untuk materinya. Barakallahu.
Nona seorang siswa kelas 11
di sebuah sekolah (SMK) di Jakarta. Ia adalah seorang anak yang cantik,
cerdas, berprestasi akademik baik, taat beribadah, dan mudah bergaul, sehingga
sangat disukai teman-teman dan banyak pria yang tertarik padanya. Ayahnya adalah
seorang pemuka agama dan menanamkan nilai-nilai moral kepada seluruh anggota
keluarganya, tetapi tetap moderat. Sebagai orang muda, Nona memiliki keinginan
untuk hidup mengikuti trend model anak muda dewasa ini yang cenderung glamour,
sementara secara ekonomi orang tua hanya mampu memfasilitasi biaya untuk
kepentingan pendidikan, sehingga Nona mengalami kesulitan untuk memenuhi
keinginannya yang sangat kuat untuk mengikuti gaya hidup masa kini agar dapat
diterima di lingkungan pergaulannya. Penampilan yang tidak sesuai harapan
membuat Nona merasa berbeda dari teman lain dan kurang yakin pada dirinya.
Untuk memenuhi kebutuhan ini Nona diajak oleh temannya
bekerja mudah,dengan bekerja melayani
pria dewasa dan mendapatkan uang sebagai imbalannya. Nona mengalami kebingungan
dan keraguan, disatu sisi sangat membutuhkan uang untuk memenuhi keinginannya,
tetapi disisi lain bertentangan dengan nilai-nilai moral yang diyakini selama
ini dan takut kalau diketahui orang tuanya. Karena Nona terus ragu dan belum berani
mengambil keputusan, temannya menjelaskan atas dasar pengalamannya disertai
beberapa bukti bahwa semua kegiatan ini dilakukan secara tertutup dan personal,
sehingga tidak akan ada orang yang tahu dan hasilnya sangat menjanjikan.
Keinginan untuk mengikuti gaya hidup glamour lebih kuat
mendominasi dibandingkan nilai-nilai moral yang diyakininya, Nona berpikir ini
jalan yang paling mungkin dilakukan untuk meningkatkan finansial dan memutuskan
untuk masuk kedalam kehidupan yang ditawarkan dan diperkenalkan temannya.
Kehidupan ekonomi yang meningkat menempatkan Nona menjadi
trend centre anak muda, bergaul dengan berbagai kalangan, menjadi pusat
perhatian lingkungan pergaulannya, banyak pria mendekatinya. Kondisi ini
mendorong Nona semakin mendalam menjalani profesinya sebagai pelayan pria
dewasa/ Pekerja Seks Komersial (PSK) dan berupaya untuk selalu berhati-hati
agar tidak diketahui oleh lingkungannya.
Sesuai berjalannya waktu, kehidupan glamour, status ekonomi,
perhatian banyak pria, dan profesi PSK yang digeluti tidak mampu lagi memberi
arti bagi hidup Nona. Menimbulkan perasaan “kosong”, “hampa”, “kegelisahan”,
“kehilangan arah”. Di sisi lain, Nona meresa khawatir atas keadaan dirinya yang
selalu ketakutan atas Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan tertularnya
penyakit Inveksi Menular Seksual (IMS) salah satunya adalah HIV dan AIDS,dari informasi yang pernah diketahuinya.
Akhirnya dalam diri Nona muncul pertanyaan“apa yang sesungguhnya yang saya inginkan”?, “apakah ini tujuan hidup
saya”.
HOMEWORK :
1. Apakah masalah yang dialami Nona?
2. Bagaimanakah Nona memutuskan masalahnya? Apakah keputusan yang diambilnya sudah tepat?
3. Resiko apa yang dihadapi Nona ketika dia memutuskanuntuk menjadi PSK ?
4. Apabila kamu sebagai teman Nona, apa saranmu kepada Nona?
5. Tuliskan pesan-pesanmu untuk remaja Indonesia dan carilah
gambar yangsesuai
6. Kerjakan tugas ini di ketik menggunakan dokumen word dan
dikirimkan melalui:
IG BK : @bksmkn31jakarta
dan di Tag ke IG Guru BK
dengan
CAPTION : STUDIKASUSNONA_NAMA KELOMPOK_KELAS
Siapa sahabat itu sebenarnya? Yang seperti apa kriteria seorang sahabat itu? Apakah dia orang yang selalu ada untuk kita, atau dia orang yang selalu setia bersama kita dalam setiap keadaan? Semua pasti memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan siapa yang pantas menjadi sahabatnya. Seperti persahabatanku dengan Fadhil, sahabatku semenjak aku kecil dahulu. Namun, kisah persahabatan kami tak seindah kisah persahabatan yang lain. Mungkin ada baiknya aku menceritakan kisah persahabatan kami ini.
Kisah ini dimulai dari masa kami SMA. Seperti biasa kami berada di kelas yang sama. Sedari SD dulu kami tidak pernah berpisah sekolah, bahkan kelas kami pun selalu sama. Sampai-sampai ada beberapa teman kami yang mengatakan kami ini adalah sepasang gay[1] yang memakai seragam sekolah. Betapa piciknya pandangan mereka menilai persahabatan kami. Tapi bukan itu yang menjadi masalah dalam hubungan persahabatan antara aku dengan Fadhil.
Saat itu guru-guru di sekolah sedang mengadakan rapat sehingga semua siswa-siswi di kelas menganggur. Aku punya ide untuk kabur dari sekolah dan pulang ke rumah lebih awal sebagaimana anak-anak muda saat itu. Kebetulan aku dan Fadhil sama-sama memiliki keahlian parkour[2] sehingga dapat menjadi andalan kami untuk kabur tanpa bisa ditangkap oleh petugas keamanan sekolah. Lalu aku menghampiri Fadhil dan mengajaknya untuk kabur lewat gerbang belakang sekolah.
“Fadhil, kita kabur yuk mumpung guru-guru lagi pada rapat. Lewat pintu belakang aja. Dengan kemampuan parkour kita, pasti kita bisa melompati gerbang belakang sekolah yang tinggi itu.” pintaku.
“Rizal, itu bukan tindakan yang baik. Ini bukan jam kita untuk pulang. Sebaiknya kita menunggu dulu di sini sampai para guru selesai rapat. Jika mereka telah mengizinkan kita pulang, kita bisa pulang tanpa repot-repot melewati gerbang belakang sekolah lagi. Apa lu gak inget kata guru agama kita? Dulu para ulama salaf seperti Imam Bukhari ataupun Imam Syafi’i sampai rela menempuh perjalanan ratusan mil dalam beberapa bulan hanya demi menuntut ilmu. Apa kita gak mau ikut jejak mereka dengan rajin menuntut ilmu? Mending kita belajar bersama-sama saja di sini daripada pulang ke rumah.” nasihat Fadhil.
“Ah ceramah aja lu. Pengang juga nih kuping gua denger celotehan sok ustadz lu itu!” ucapku.
“Bukan sok menggurui begitu, tapi gua cuma pengen agar kita bisa melakukan hal-hal yang terbaik aja daripada yang gak ada manfaatnya. Kasihan kan orang tua kita biayain sekolah mahal-mahal, kita malah membalasnya dengan bolos sekolah,” khutbah lanjutan si Fadhil.
Namun, kala itu aku bersikeras ingin pulang dan kabur lewat gerbang belakang. Aku pun memalingkan wajahku dari Fadhil. Aku mengetahui Fadhil menatapku dengan kecewa saat aku memutuskan untuk pergi sendiri. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin pulang. Toh diriku tidak merugikan siapa pun. Aku melompat dari lantai atas sekolah ke bawah dengan menuruni sebuah tangki air. Tangki air itu tidak terlalu dekat dengan balkon sehingga aku harus melompat untuk menggapainya. Untung saja aku punya keahlian parkour sehingga aku terbantu. Saat aku telah berada di bawah, aku mendongakkan kepala dan kulihat Fadhil sedang melongok ke bawah melihatku. Aku kesal sekali dengannya karena dia tidak mau mendengarkan aku. Aku langsung berlari ke belakang sekolah.
Saat berlari ke belakang, dua orang petugas keamanan memergoki aku. Dengan kaget, aku berlari lagi menjauhi mereka. Keduanya mengejarku. Aku berlari ke arah sebuah selokan besar di belakang sekolah yang memisahkan antara lapangan dan gedung sekolahan. Dua petugas yang sedang mengejarku pun berhenti. Mereka mengira aku sudah tersudut dan tak mungkin bisa ke mana-mana karena selokan itu penuh air dan jarak antar dindingnya cukup jauh. Saat mereka mulai berpikir aku sudah menyerah, mereka mendekatiku. Namun, aku langsung melompat sejauh mungkin melewati selokan itu dan tanganku berhasil meraih dinding selokan di seberang hingga kakiku hampir terpeleset jatuh ke selokan. Beruntung, dengan sekali hentakan kakiku, aku bisa melompat ke atas dan kini aku telah berada di seberang. Para petugas itu pun kebingungan dan tampak heran, keduanya saling berpandangan. Keduanya tak bisa melewati selokan tersebut dan mereka berlari untuk mencari jalan berputar. Saat itu, aku langsung berlari lagi menuju gerbang belakang sekolah.
Aku sudah dekat dengan gerbang belakang. Tiba-tiba, seseorang melompat dan menghadang di hadapanku. Aku terkejut karena itu Fadhil. Dia mengejarku dengan kemampuan parkour-nya yang setara denganku.
“Zal, jangan lari! Sebaiknya lu kembali ke kelas kita aja! Tidak ada gunanya lu kabur dari sini, gak akan ada manfaatnya. Mending kita belajar bareng aja kayak biasanya,” ujar Fadhil padaku.
“Ahh… udah bosen belajar melulu. Saatnya kita seneng-seneng, kita ini udah SMA Dhil … bukan anak-anak lagi. Kalau lu gak mau ikut, jangan halangi gua, minggir!” pintaku.
Aku mencoba bergerak menuju gerbang. Akan tetapi Fadhil menahan tanganku. Aku menepisnya, namun ia tetap mengikutiku dan menarik lenganku. Aku berusaha melepaskan diri. Sementara itu, dua petugas tadi sudah berada di dekatku. Aku mencoba terus memberontak agar Fadhil melepas cengkeramannya dari lenganku. Tapi sungguh kuat cengkaramannya. Fadhil memang lebih kuat dariku sejak dulu. Tapi tiba-tiba seseorang menendang Fadhil hingga terjatuh dan akhirnya lenganku pun bebas dari genggamannya. Ternyata Fairuz yang menendang Fadhil.
“Cepat kabur! Aku yang akan menjaga dari sini.” teriak Fairuz padaku.
Aku pun menatapnya, mata Fairuz serius. Aku langsung berlari ke gerbang dan hap … happ … aku berhasil melompati gerbang itu. Aku melihat dari celah gerbang, para petugas itu menangkap Fairuz dan kulihat Fairuz tersenyum kepadaku seraya mengacungkan jempolnya. Aku pun tersenyum balik kepadanya. Aku melihat roman kecewa di wajah Fadhil saat itu. Aku tak mempedulikannya.
Berselang beberapa hari setelah itu, aku mendapat hukuman dari pihak sekolah. Aku kecewa, Fadhil sama sekali tidak membelaku. Malah Fairuz yang menyemangatiku saat itu. Fairuz bilang, “Sabar saja kawan, kita kan gak akan lama berada di sini. Dunia bebas di luar sana masih menantikan kita. Gua akan ada untuk lu!” Aku terharu mendengarnya, inilah sosok sahabat sejati yang selalu ada untuk kita. Semenjak itu, aku dan Fairuz menjadi sahabat. Aku mulai menjauh dari Fadhil.
Suatu hari, aku melakukan hal yang sama dan kini dibantu oleh Fairuz. Lagi-lagi Fadhil hadir di antara kami dan kembali mencegah diriku untuk kabur dari sekolah. Akhirnya aku ketahuan dan berhasil ditangkap oleh petugas sekolah lalu aku di-skorsing selama sepekan karena kejadian itu. Aku amat marah pada Fadhil yang mencoba menghalang-halangiku hingga akhirnya aku ketahuan dan terkena hukuman.
Aku marah pada Fadhil. Aku menghampirinya saat pulang sekolah. Aku mengeluarkan sebuah pin parkour tanda persahabatan kami dan meletakkannya ke tangan Fadhil. Fadhil tertegun dan menatap ke arahku. “Kenapa lu kasih pin ini ke gua? Ini kan punya lu, Zal!” tanyanya. “Anggap saja kita gak pernah bersahabat. Gua udah gak tahan karena lu yang gak pernah merasa empati lagi sama gua, kita akhiri hubungan persahabatan kita selama ini. Lupakan semua masa lalu kita, gua udah punya sahabat lain yang lebih mengerti tentang gua, terima kasih atas semuanya!” lalu aku pun pergi ke arah Fairuz yang tersenyum melihatku. Kami pun berlalu meninggalkan Fadhil sendirian. Tanpa terasa air mataku mengalir juga, begitu pula dengan air mata Fadhil yang turut menetes.
*****
Waktu telah berlalu, zaman telah berubah, seragam kami pun telah berganti. Dulu kami berseragam sekolah, kini aku berseragam hitam-hitam sementara Fadhil telah berganti kostum polisi. Tapi sejak hubungan persahabatan kami tidak berlanjut, aku juga sudah tidak tahu persis bagaimana kabarnya. Aku hanya tahu kini dia menjadi seorang polisi dari tweet di twitter-nya.
Malam ini adalah saatnya aku menjalankan tugas dengan segala perlengkapan kerjaku. Aku senang bisa menyalurkan bakat parkour-ku untuk mencari nafkah, di luar pendapat sebagian orang tentang halal dan haramnya pekerjaanku. Tapi setidaknya, hasil dari pekerjaanku ini lumayan besar juga. Cukuplah untuk hidup layak di kehidupan metropolitan seperti ini.
Aku telah siap menunaikan kewajibanku malam ini. Semua peralatan untuk bekerja telah kubawa di ransel kerjaku. Beberapa menit kemudian, aku dipanggil oleh bos agar disuruh menemui dia untuk meeting di tempat yang telah ditentukan.
Hanya sekitar 30 menit, aku telah tiba di tempat yang disepakati oleh kami bersama. Selain bos, ada seorang lagi yang bersama dengannya dan ikut menungguku. Orang tersebut tak lain adalah sahabatku, Fairuz. Bos memberikan briefing sebelum kami melakukan tugas dan pekerjaan kami agar semua bisa berjalan lancar sesuai rencana.
Selama beberapa tahun terakhir ini, aku melatih Fairuz untuk belajar parkour agar kami bisa saling bekerja sama dalam menunaikan tugas dengan lebih baik. Kini kami bukan lagi sekedar sahabat yang seia sekata, tapi juga partner kerja yang kompak.
Setelah mendapat pengarahan dari bos sekarang kami telah siap untuk bekerja. Aku dan Fairuz segera mendekati tempat kerja kami. Aku melepaskan dan membuka ranselku lalu mengeluarkan isinya, yakni sebuah tali fiber yang amat kuat. Aku memberikan tali itu kepada Fairuz. Fairuz lalu melempar tali itu ke atas sebuah pagar baja di hadapan kami. Setelah memastikan tali itu terpasang dengan kuat, aku pun melompat dengan lihai untuk menggapai tali tersebut. Aku memanjat dinding baja tersebut. Sesampainya di atas, Fairuz ikut meraih tali dan memanjat. Saat mendekati atas, aku membantunya naik. Kami berdua kemudian melompat-lompat menuju ke arah sebuah gedung. Aku mengambil sebuah alat pengganggu sinyal di ransel dan menempelkannya di sebuah kamera CCTV[3] yang ada di dekat kami. Setelah dipasang, semua kamera CCTV yang ada di gedung pun menjadi kehilangan jaringan. Saat itulah, aku dan Fairuz melompat ke jendela. Fairuz mengeluarkan alat pelubang kaca jendela berteknologi tinggi dari ransel kerjanya. Kami juga tak lupa untuk memasang masker penutup wajah. Setelah jendela berhasil dilubangi, maka kami berdua masuk secara diam-diam.
Karena kamera CCTV telah dilumpuhkan, maka kami bisa melenggang dengan nyaman masuk ke gedung tanpa diketahui. Drap … drapp … terdengar suara jejak kaki mengenakan sepatu kulit akan melintasi lorong yang kami lewati. Fairuz mendangakkan kepala dan melihat sebuah lubang ventilasi dan menarik bajuku untuk memberitahukan hal itu. Aku ikut melihat. Dengan bantuan Fairuz, aku menaiki pundaknya dan berhasil membuka ventilasi. Aku masuk ke ventilasi. Suara derap langkah kaki orang itu semakin mendekat. Fairuz melompat ke dinding yang mengapitnya di kanan dan kiri lalu berhasil meraih tepian ventilasi lalu segera masuk ke dalamnya. Tak lama orang yang sedang berjalan itu melewati kami tanpa tahu jikalau kami tengah berada di atas lubang ventilasi.
Setelah kami melihat bahwa situasi telah aman terkendali, maka aku menghidupkan flashlight[4] yang telah terpasang tepat di sebelah jam tanganku. Sementara itu Fairuz mengambil kertas semacam peta denah ruangan di lantai itu. Jari telunjukku menunjuk pada sebuah titik yang telah diberi tanda warna merah oleh bos. Lalu kami berdua memperkirakan ke mana arah yang harus dituju untuk mencapai ruang tersebut melalui saluran ventilasi di atas ruangan.
Kami pun berjalan perlahan menuju ke tempat yang telah ditunjukkan oleh denah. Tak berapa lama, kami pun telah sampai berada tepat di atas ruangan tersebut. Aku membuka tutup ventilasi dengan hati-hati. Aku dan Fairuz melongok ke bawah dan melihat ada sebuah brankas dari besi yang berada di tengah-tengah rungan itu. Namun nampak sekali di sekitarnya terdapat sinar-sinar laser yang digunakan untuk melindungi brankas tersebut dari pencuri. Kami berdua mengerti bahwa kami harus berhati-hati agar tak sampai menyentuhnya. Karena salah satu dari anggota tubuh kami menyentuhnya, maka laser itu bisa memotong tubuh kami. Selain itu, laser tersebut merupakan sensor yang dapat memicu alarm untuk berbunyi.
Aku telah mengikatkan tubuhku pada tali fiber yang kami bawa sebelumnya. Dengan bantuan Fairuz yang memegangi tali tersebut dari atas. Aku pun bergantungan perlahan. Dalam hatiku, aku bergumam, “Ini seakan melakukan aksi di film Mission Impossible. Ini memang impianku semenjak dahulu untuk beraksi seperti ini.” Tampak senyumanku menyungging di pipi.
Di atas, pada lubang ventilasi, Fairuz membantu menurunkanku ke bawah dengan perlahan-lahan sekali. Aku semakin mendekati brankas, namun aku harus berhati-hati dengan sinar laser yang mengerubunginya. Saat itu, aku kebingungan bagaimana cara agar bisa melewati laser. Sementara itu Fairuz mengecek jam tangannya dan juga alat pelacak gerakan di sekitar ruangan tersebut. Ada beberapa gerakan yang sedang menuju ke tempat kami. Fairuz mulai panik dan pegangannya semakin mengendor. Aku pun terkejut merasa semakin turun ke bawah, padahal hanya dalam jarak hitungan senti saja, kakiku bisa hilang jika tersentuh sinar laser. Aku menatap ke Fairuz dan tampak ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan tali tersebut dan menariknya dengan alat yang telah terpasang di bagian tengah tali. Awalnya tali itu perlahan tertarik ke atas. Namun karena tangannya, tali itu lepas dan kembali menurun. Tubuhku melesat ke bawah. Untungnya ketika kakiku hampir menyentuh laser, Fairuz berhasil menahan tali itu dengan alatnya. Hufff… hampir saja!
Aku memutuskan untuk berayun pelan ke depan dan ke belakang untuk meraih sebuah pegangan di dinding ruangan. Setelah beberapa lama aku berayun, aku berhasil memegang sebuah lengkungan-lengkungan horizontal di dinding. Aku pun menapakkan kakiku ke sudut lengkungan yang ada di bawah kakiku. Dari situ aku melompat dengan sangat hati-hati menuju ke tombol-tombol yang dapat mematikan sinar laser itu. Tombol-tombol itu ada di pinggir-pinggir ruangan. Dengan kelenturan dan kelincahanku, aku berhasil mematikannya satu per satu. Hampir semua laser telah kumatikan, hanya tinggal satu yang tersisa.
Fairuz melihat lagi ke alat pelacak gerakannya, tampak seseorang sudah amat dekat dengan pintu masuk ruangan. Fairuz pun panik dan tak sengaja melepaskan tali yang menggantungku. Dengan cepat tubuhku meluncur ke bawah dan sepatu kiriku mengenai laser sedikit dan terbakar. Jantungku terpacu cepat, perasaanku tak karuan. Sedikit lagi aku hampir kehilangan kakiku. Mataku membidik ke arah Fairuz seraya memberi kode kepadanya agar lebih berhati-hati. Fairuz hanya mengangguk pelan mengiyakan.
Karena tinggal satu laser saja, maka aku mengayunkan tubuh ke bawah dengan mudah. Aku memencet tombol untuk mematikan sinar laser yang tersisa. Aku langsung menuju ke brankas. Tanganku membuka brankas itu dengan membaca kode yang telah diberikan oleh bosku. Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu. Aku kaget dan bergegas mengambil permata yang ada di dalam brankas. Aku memberi kode pada Fairuz untuk menarikku ke atas.
“Hei, jangan lari kalian! Dasar pencuri bejat!” teriak orang tadi sambil berlari keluar untuk mengejar kami yang masih berada di saluran ventilasi di atas.
Aku dan Fairuz langsung turun dari lubang ventilasi. Baru beberapa detik kami menapakkan kaki kami di lantai, orang yang tadi telah membawa beberpa petugas keamanan gedung untuk menangkap kami. Kami berdua langsung menuju ke jendela. Kami terjang jendela tersebut hingga pecah berantakan. Saat kami berada di luar, tak ada jalan lain. Kami terpojok. Kami lari ke arah jendela yang di sebelahnya lalu turun ke jendela di bawahnya dengan kemampuan parkour kami. Para petugas pun kebingungan. Mereka buru-buru ke bawah dengan lift.
Di lantai 3, mereka berhasil memergoki kami lagi. Aku dan Fairuz kembali melompati balkon-balkon. Dan saat mereka telah begitu dekat, aku mengarahkan pandanganku ke atap sebuah gedung yang berada di seberang gedung itu. Jarak atap itu dari balkon memang cukup jauh. Para petugas itu semakin dekat dan mereka menganggap kami sudah tersudut. Tetapi aku memberi isyarat kepada Fairuz dan kami berdua pun melompat ke atap gedung di seberang itu. Jemari kami berhasil menangkap tepi dari atap, tapi kami hampir terjatuh. Namun aku dan Fairuz menghentakkan kaki kami dan melompat ke atas. Kami berhasil! Para petugas keamanan hanya tercengang diam tak mampu berbuat apa-apa. Lalu patugas yang lain menelepon polisi untuk meminta bantuan.
Aku dan Fairuz berlompat-lompat di atas atap itu menjauhi petugas keamanan itu. Hanya dalam hitungan menit, terdengar suara sirine polisi menggaung keras di sekitar kami. Cahaya-cahaya mengitari kami yang masih berada di atas atap gedung. Aku tak peduli, kami terus melanjutkan pelarian kami. Beberapa polisi telah naik ke atas atap gedung dan berteriak memberikan peringatan untuk kami. Kami terus berlari. Kami mendengar suara tembakan ke atas yang keras memberi peringatan kedua, tapi kami tetap tak menggubrisnya.
Polisi itu mulai mengejar kami dan menembaki kami dari belakang. Tapi kami cukup beruntung dapat terhindar dari tembakan-tembakan itu dengan aksi parkour kami. Seseorang yang tak aku lihat wajahnya, tiba-tiba menahan senjata dari teman polisinya yang lain. Lalu dia berlari mengejar kami dengan kemampuan yang sama (parkour).
Saat kami melompati gedung, polisi itu pun berhasil melompati gedung juga. Saat kami melakukan salto untuk melewati pipa yang menghalangi, polisi itu juga bisa melakukan dengan sempurna. Aku jadi teringat seseorang yang begitu mahir melakukannya sama sepertiku. Aku jadi penasaran dengan polisi ini. Aku tak berani menghadap ke belakang, khawatir dia membawa senjata dan menembak.
Akhirnya polisi itu pun bersuara, “Berhenti! Sebelum aku melepaskan tembakan!”
Aku dan Fairuz pun berhenti sejenak. Aku memutar kepalaku menghadap ke arah polisi itu. Alangkah terkejutnya aku, dugaanku memang benar. Itu memang Fadhil dengan seragam polisi yang lengkap sedang mengacungkan pistolnya ke atas. Tak mau berlama-lama, aku dan Fairuz berlari lagi menghindarinya. Dan desingan peluru pun mulai berderai menuju ke arah kami berdua. Dengan sekuat kemampuanku, aku mencoba terus menghindar dan berlari. Peluru tersebut belum ada yang mengenaiku satu pun. Tetapi ketika aku akan melompati atap lagi, Fadhil telah berada cukup dekat denganku. Fairuz melompat duluan dan telah berhasil mencapai atap seberang. Giliranku untuk melompat, sayang peluru Fadhil menembus daging di kaki kiriku. Darah keluar dari kakiku. Aku pun terjatuh.
Seketika Fadhil menghampiriku lantas ia membuka penutup wajahku. Fadhil nampaknya kaget dan tak menyangka. Ia tertegun sekali melihatku.
“Ri… Rizal… E… Elu… Kenapa bisa di sini? Kenapa lu sekarang jadi pencuri seperti ini? Ini kan pekerjaan kotor dan dilarang ALLAH Subhanahu wa Ta’ala? Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” ucap Fadhil kepadaku.
Aku menimpalinya, “Ahh… masih aja lu sok jadi ustadz, banyak bacot lu! Udah puas kan lu nembak kaki gue?!!”
“Masya ALLAH, Zal. Gua aja gak tahu kalo ini elu. Maafin gue, tadi gua udah berusaha ngasih peringatan, tapi lu gak mau denger. Terpaksa gua tembak kaki lu! Lu gak apa-apa?” tanya Fadhil dengan sopan dan merasa bersalah padaku.
“Gak apa-apa gimana? Darah gua aja udah muncrat ke mana-mana! Lu buta apa?!!” kesalku.
“Baiklah kalau memang lu gak terima, lu bisa gantian nembak gua sekarang! Maafin gua… sahabatku!” ucapnya seraya menyinggahkan pistolnya ke tanganku.
Aku bingung dengan sikapnya ini. Aku memegang pistolnya dengan penuh emosi. Rasanya ingin langsung aku ledakkan tempurung kepalanya itu. Rasa sakit ini telah merasukiku. Aku tak tahan dengan sakit ini. Aku mengarahkan pistol itu ke Fadhil, tepat di hadapan wajahnya.
“Jika memang membunuh gua, bisa menghapus dendam lu selama ini. Gua akan serahin kepala gua ini agar bisa leluasa lu tembak. Gua janji gak akan ngalangin lu untuk itu. Tapi sebelum lu ngancurin kepala gua, gua cuma pengen minta satu hal sama lu,” pinta Fadhil.
Aku bingung harus bagaimana, “Apa yang lu mau?”
“Gua cuma minta agar hati lu mau maafin gua dan tetap nganggap gua sahabat walau banyak perbedaan di antara kita! Bisa gak?” tanya Fadhil lagi.
Aku cuma mengangguk dengan gugup, tapi tak terasa air mataku mulai meleleh perlahan.
“Dan ini…,” Fadhil sempat ingin mengucap sesuatu sambil tangannya merogoh ke arah kantong di balik bajunya. Aku kaget dan mengira ia menipuku dengan menyembunyikan pistol lain di balik bajunya dan berupaya menembakku. Daripada dia menembakku, sebaiknya aku yang menembaknya duluan. Lalu DUARRR… DUARRR…!!!
Cairan merah kental mengucur di kepala Fadhil. Tubuhnya tergeletak tak berdaya ke tanah. Dia tersungkur bersimbah darah. Sebuah lubang besar menembus tempurungnya. Tanganku gemetar sesaat aku menghempaskan peluru itu ke arah kepala Fadhil. Aku tak menyangka aku bisa menembaknya seperti ini.
Aku melihat tangan kanannya masih berusaha mengambil sesuatu yang nampaknya pistol dari balik bajunya itu. Saat itu, aku coba meraih tangannya. Penasaran, diriku ingin melihat apa sebenarnya yang ada di balik bajunya itu. Betapa shock diriku saat mengetahui ternyata yang ingin dia keluarkan bukanlah pistol. Sesuatu yang membuatku merinding takut, merasa bersalah, dan bergidik tak percaya. Pin parkour tanda persahabatan kami. Yang pin persahabatan kami yang masih dia simpan sedari dulu. Pin persahabatan yang aku kira adalah pistol, kini telah membuatku kehilangan seorang sahabat lamaku.
Aku menatap ke arah Fairuz, tapi dia malah diam saja. Sementara itu para polisi yang mendengar suara tembakan itu, kini telah berada di atas dan bersiap menangkapku. Aku hanya bisa diam. Aku memandang Fairuz kembali, tapi kini dia memalingkan wajahnya dariku. Dia lari bersama raselnya yang telah berisi permata hasil curian kami berdua. Fairuz kemudian hilang di kegelapan dengan kemampuan parkour yang ku ajarkan. Polisi langsung membekukku. Aku dibawanya pergi dari situ.
Aku melihat tajam ke jasad kaku Fadhil. Mataku meneteskan air mata dengan derasnya. Seandainya bisa aku ungkap rasa bersalahku, rasa penyesalanku dan rasa sedihku. Aku tak tahu apa yang telah merasukiku. Aku memang sudah berubah, bukan seperti dulu lagi ketika masih bersahabat dengan Fadhil.
Di saat-saat terakhir saja, Fadhil menunjukkan sikapnya yang benar-benar bersahabat denganku. Sementara Fairuz yang ku anggap sahabat sejati, malah kabur tanpa peduli dengan keadaanku. Sahabat macam apa itu?!
Mulai saat itu, anggapanku tentang arti sahabat menjadi berbeda. Sahabat sejati mungkin tak selalu hadir untuk kita, tapi dia siap selalu mendukung dan menasihati kita. Ternyata sahabat sejati itu bukanlah orang yang selalu membenarkan perkataan dan perbuatan kita. Sahabat sejati itu adalah orang yang selalu berkata benar tentang kita, berkata benar tentang perbuatan kita.
[1] Penyuka sesama jenis (untuk lelaki)
[2] Semacam olahraga extreme yang memadukan antara kekuatan serta ketangkasan gerak tubuh
[3] Kamera yang digunakan untuk mengawasi keamanan suatu gedung atau bangunan
[4] Lampu senter
Diunggah dari Buku : Analogi Cerpen Berkelahi dalam mimpi, Aisyah Asafid Adbullah, dkk, Pena Inteligensia (PIC),
Cetakan 1, April 2013
Homework
1) Bacalah dengan baik, dan pahami isinya dan tuliskan komentarmu pada blog ini, komentar pada blog ini akan masuk langsung di dasbor guru BK sehingga dapat diketahui siswa yang belum membacanya.
2) Apakah makna dari sebuah persahabatan?
3) Apakah dalam persahabatan sering kali terjadi perselisihan? apakah menurutmu ini merupakan hal yang wajar?
4) Tuliskan tips-tips untuk menjalin persahabatan sehingga persahabatan menjadi lebih lama dan kuat.
5) Carilah gambar dan lagu yang sesuai untuk lampiran tugasmu tentang sahabat
6) Jawaban dikirim ke di IG masing-masing dan di taq ke IG : @bksmkn31jakarta
Assalammu'alaikum, Hallo Sahabat bunda .......salam kenal and Welcome to My Blog ππππ.
Sebenarnya ini bukan Blog pertama yang dibuat, hanya saja bunda nya blom konsisten dan blom rajin. he..he.. ini jujur apa curhat yaah.???? Ga papa yaaa sahabat bunda... orang kalo belajar emank suka gitu ...suka banyak alasan. Makanya bunda tulis deh sebagai penyemangat hati dan juga biar move on.
Haalo sahabat bunda.......tahu ga ini group yang kesekian loh yang nama bunda dimasukkan oleh Om Jay.. Sedih ga sie.. punya kaka yang bukunya sudah banyak, eh adiknya bukunya blm banyak muncul. Eemank kenapa bunda ? ya itu blom move on. Kebanyakan alasan nieee. Jadi ceritanya ini baru mencoba kembali mengingat ini adalah Tahun Baru Bunda membuat dalam daftar list Resolusi Bunda di Tahun 2023 yang ingin dibuat adalah banyak belajar menulis baik dalam bentuk sederhana yang mungkin belum di publish sampai dengan beberapa website yang bisa di publish. Harapannya sie... untuk memudahkan dalam media pelayanan yang akan diberikan kepada konseli dan juga siswa.
Gitu loh.
Nah makanya mohon doanya ya Sobat Bunda....
Malam tadi dimulai dengan menyimak tentang belajar menulis lagi. Group ini namanya Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI 28. tuuh udah banyak angkatannya atau gelombangnya yaa.. he..he.. Banyak banget tuh Grup yang ada nama bunda yaa. Ampun deh dan hanya menyimak sajah. Sekarang nieee. niatnya serius, fokus dan bisa lulus beneran. Jadi yaaa kudu berjuang deh.
Sahabat bunda ..
Halaman ini adalah halaman opening yang mau bunda cerita tentang serba serbi KBMN PGRI Gelombang 28. Tahu gak bundanya Pede banget.. udah mengisi pendaftaran online eh ga tahunya diujung ada alamat Blog. xi..xii.. langsung mati gaya deh dan lewat tuh isian ga dilanjutin.. Blog bunda jadul di manakah kamu ??? jawabannya ngumpet bun abiz yang punya aja udh lupa xi..xi..maap yeee Blog made in Jadul 2015, Bunda tetap cayang kamu kok, hanya sekarang bunda lagi buat versi baru aja. Gitu...
Udaa ah curhatnya..
Sekarang bunda mau beneran menulis nih. eh meresume yee.
Bunda masuk Zoom udh ketinggalan karena ada tamu jadi baru bisa joint.. MCnya ramah-ramah dan mulai membuka kegiatan. Dari Sambutan Perwakilan PGRI bapak Catur Nurrohman Oktavian, M. Pd sebagai (Ketua Asosiasi Penulis Guru PB PGRI) sampai Motivasi dari Om Jay (DR. Wijaya Kusumah, M. Pd) beliau menyampaikan hal yang bagus dan memotivasi. Kata Beliau : " Semua orang bisa menulis , menulis adalah keterampilan ,dan keterampilan membutuhkan latihan". Cakep banget deh ah motivasinya tuh kan bener kudu latihan ya bunda... ! Lalu pengantar berikutnya adalah dari Kakanda Tercintah... Om Jay... Bunda sie suka pangginya AA Ade.. Udah AA Ade jga lagi yaa...cie..ciee. bunda ada maunya tuh bilang lope..lope.. Biar diajak terus sama Om Jay.
Om Jay menyampaikan bahwa " Menulis adalah kegiatan semua orang tetapi semua orang belum tentu bisa menulis." Bener tuh Om salah satunya ya bunda ini xi..xi. Cakep deh Om Jay pengantarnya dan memang benar katanya jga menulis dan sampai menerbitkan buku yaa kudu banyak kesabaran dan juga motivasi serta fokus. Baik Om Jay bunda sudah simak nih yaaa...
Dan banyak motoivasi lainnya dari bunda yang sudah jadi senior.. menulis.. Tks yaa para senior.
Teknis Kegaitan selanjutnya disampaikan oleh Bapak R Brian Prasetyawan, S. Pd.
Mr. Bams menyampaiakn Peraturan Peserta KBMN PGRI Gel. 28.
Slide pertama adalah Opening Pembukaan Pelatihan Belajar Menulis, ternyata pada sesi perkenalan Mr. Bams sekolahnya ga jauh dari sekolah bunda . Kapan-kapan mau silaturahmi ah.. boleh tak yaa Mr ?
Kesekretariatan Pelatihan cukup banyak yaa Mr. dari mulai sosialisasi sampai pendataan peserta yang dan daftar sampai mengumumkan peserta yang lulus.
Schedule !
Nah ini point penting untuk bunda kudu udah di rumah ya bun. Jadwalnya
Senin, Rabu, Jum'at, Pukul 19.00 - 21.00 dengan 30 pert3muan, kurang lebih 2-3 bulan yaa..
Hmm .....lumayan nih durasi yang cukup panjang dan di waktu-waktu kita baru aja take a rest.
Bismillah semoga bunda bisa luang kan waktu yaaa. dan kudu bener.. He,,,he.. kan udh niat yaa..yang penting niat dulu kan yaaa. Ada ungkapan yang mengatakan semua berwal dari niat.
Note buat bunda
Ada 2 syarat Lulus Pelatihan kata Mr., Yang pertama adalah Membuat 30 resume di Blog dan Menerbitkan Buku Solo... Wah Amazing ini jika bisa terlaksana.
Aktivitas Harian ? apa itu yah ?
Hmm.. Ternyata yaa itu kudu menyimak Materi dan membuat resume di Blog, Mengisi Form Pengumpulan resume, upayakan sering berkunjung ke Blog kita sendiri dan jga teman pastinya dan share ke group.. ini lumayan apa bikin lu manyun ? kudu lu semangat pastinya ya kan.. ya iyalah, masa iya donks.
Ada lagi nih pada ALur Pelatihan Membuat 30 resume sampai menerbitkan buku..sampai mengisi form Bukti Buku Terbit. yang pasti kalo lulus dont worry pasti dapat sertifikat Pelatihan.
So yang ditungu-tunggu oleh peserta Pelatihan pasti ada yaitu Benefit dari Belajar Menulis PGRI ini pasti banyak deh. diantaranya :
Buku Solo
Sertifikat 64 Jp
TErampil Menggunakan Blog
Bisa ikut Buku Antologi
Info Lomba Blog
Channel Penerbut
Relasi Guru Penulis
kalo bunda tambah satu lagi ah.. kenal sama Mentor Hebat dan mau bunda colek jadi Mentor Bunda boleh tak. Please ya Mr-Mr atau Mrs... sepertinya banyak nih yang namanya sudah cukup populer. Ada Bunda Aam, Bunda Widia, bunda Dwi yaa.. siapalagi itu yang banyak banget sudah Karyanya yah.
Nah selanjutnya tugas bunda adalah menyiapkan laporan hasil Resume selama kegiatan dengan beberapa catatan ya bunda.
Remember untuk tulis Keterangan Resumen :
Judul
Resume ke
Gelombang
Tanggal
Tema
Narasumber
and wajib posting gambar poster !!!!
Ada beberapa catatan tambahan jga dalam Form Pengumpulan Resume :
Penulisan nama harus sama terus
Link yang disetor adalah link postingan resume
Tidak ada batas deadline. yess ini nie.. yang bunda seneng tapi bisa bunda ga disiplin xi..xi...
Ada juga keterangan tentang bagaimana menerbitkan buku Solo, ini mimpi bunda yah. semoga aja bisa terlaksana....aamiien.
Info Pelatihan Belajar Menulis
lihat Deskripsi Blog dan jga lihat Blog Pelatihan Belajar Menulis
www.pelatihanbelajarmenulis.blogspot.com
Alhamdulillah... bisa bunda simak dan juga banyak dari tanya jawab yang bisa menambah semangat untuk terus mencoba.
Ayo bunda ayo terus semangat yaa..
Salam kenal semua dengan sahabat baru bunda........
Kita sama-sama berjuang yaaa.
Semoga semua bisa lancar dan mendapatkan kemudahan dari Allah SWT.
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa bukan kata semoga di penghujung Tahun, yang akan merubahmu lebih baik di tahun depan, tetapi niat, tindakan juga kemauan kitalah yang lebih bisa mengubah kehidupan kita sendiri. By (Raka Uwais).
Bismillah semoga Niat bunda bisa terlaksana. Aamiin.